
SINGAPURA — Kiprah sivitas akademika Institut Teknologi Batam (ITEBA) kembali bersinar di kancah internasional melalui partisipasi aktif dalam forum ilmiah terkemuka The 5th Asian Conference on Ergonomics & Design (ACED) 2026. Konferensi tingkat Asia yang mempertemukan pakar ergonomi, praktisi industri, dan peneliti dunia ini berlangsung selama lima hari penuh, mulai 1 hingga 5 Agustus 2026, bertempat di One Farrer Hotel, Singapura.
Delegasi riset ITEBA dipimpin langsung oleh Dr. Eng. Ansarullah Lawi, M.Eng., bersama tim peneliti yang solid, yaitu Assoc. Prof. Dr. Ir. M. Ansyar Bora, S.T., M.T., IPM., Assoc. Prof. Dr. Ir. Ririt Dwiputri Permatasari, S.T., M.Si., Novita Pratiwi, serta Siti Maysyaroh yang merupakan mahasiswa ITEBA. Tim ini turut menjalin kolaborasi strategis lintas institusi dengan menggandeng akademisi dari Universitas Negeri Malang (UM), yakni Prof. Dr. Imam Mukhlis.
Ajang bergengsi dua tahunan ini diselenggarakan oleh Human Factors and Ergonomics Society of Singapore (HFESS) bekerja sama dengan Asian Council on Ergonomics and Design (ACED), serta didukung penuh oleh badan dunia International Ergonomics Association (IEA). Tahun ini menjadi momentum bersejarah karena bertepatan dengan perayaan 40 tahun perkembangan ilmu Human Factors & Ergonomics (HFE) di Singapura. Mengusung tema besar “Driving Human Progress through Human Factors, Ergonomics & AI”, konferensi ini sekaligus menyokong visi transformasi digital tepercaya pada inisiatif Smart Nation 2.0 Singapura.
Pada agenda sesi paralel hari Senin, 3 Agustus 2026, tepat pukul 14.50 hingga 15.10 waktu setempat, tim peneliti mempresentasikan makalah ilmiah mereka di Napier Room dalam jalur paralel Foundations of Human Factors & Ergonomics. Sesi yang dipimpin oleh Asst. Prof. Ardiyanto tersebut menjadi panggung pemaparan makalah bertajuk “Development of a Mental Workload Management Model: An Interdisciplinary Approach Using NASA-TLX and Psychological Testing”.
Latar belakang riset ini berakar kuat dari fenomena riil masyarakat di Kota Batam sebagai kawasan industri dan pusat manufaktur strategis. Di kota ini, ribuan mahasiswa menjalani peran ganda (dual-role), yakni bekerja di pabrik, perkapalan, atau logistik pada siang hari, kemudian melanjutkan perkuliahan pada malam hari. Beban ganda yang kerap tidak kasat mata (invisible burden) tersebut berpotensi memicu stres kronis, kelelahan kognitif, dan penurunan performa jika tidak ditangani secara ilmiah dan terstruktur.
Guna menjawab tantangan tersebut, tim peneliti ITEBA merancang terobosan metodologis interdisipliner dengan mengintegrasikan instrumen ergonomi berbasis tugas NASA Task Load Index (NASA-TLX) dan asesmen kepribadian kerja Perception and Preference Inventory (PAPI Kostick). Selama ini, pengukuran ergonomi kognitif dan evaluasi psikologis kerap berjalan terpisah, padahal kepribadian individu memiliki andil besar dalam menentukan bagaimana tekanan kerja diserap dan dirasakan.
Keterlibatan aktif Siti Maysyaroh sebagai mahasiswa ITEBA dalam riset ini menunjukkan iklim akademik kampus yang inklusif dan suportif, di mana mahasiswa diberikan ruang luas untuk berkontribusi langsung pada publikasi internasional bereputasi. Kolaborasi bersama dosen-dosen pakar serta keterlibatan Prof. Dr. Imam Mukhlis dari UM turut memperkaya perspektif multidisipliner dalam membedah relasi antara profil psikologis dan dinamika beban kerja mahasiswa pekerja.
Partisipasi sukses di forum ACED 2026 menjadi bukti nyata komitmen ITEBA dalam menghasilkan riset terapan yang bersumber dari problematika lokal kawasan industri, namun mampu berbicara lantang dan memberikan solusi konkret di panggung global.










