
Institut Teknologi Batam (ITEBA) berkolaborasi dengan Forum Peduli Sampah Seluruh Indonesia (FORPASI) Wilayah Kepri sukses menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Zero Waste Movement: From Campus to Campus”. Bertempat di Ruang B3-02 Kampus ITEBA pada Sabtu (27/6/2026), forum ini menjadi wadah strategis bagi akademisi di Kota Batam untuk mengevaluasi, merencanakan, serta menyatukan langkah konkret dalam pengelolaan sampah berbasis lingkungan binaan yang berkelanjutan.
FGD ini dihadiri oleh jajaran dosen dan mahasiswa dari tiga perguruan tinggi perintis gerakan ini, yaitu ITEBA, Politeknik Negeri Batam, dan Sekolah Tinggi Teologia (STT) Real Batam. Turut hadir pula Ketua Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia (IATPI) Cabang Kepri, Bapak Hendy Rinaldy, sebagai pengamat sekaligus mitra ahli. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bapak David Christian Hutagaol selaku Ketua FORPASI Kepri yang bertindak sebagai moderator.
Dalam sambutannya selaku tuan rumah, Wakil Rektor 1 ITEBA, Bapak Ansarullah Lawi, menyampaikan bahwa ITEBA berkomitmen penuh secara top-down untuk merealisasikan visi sebagai Zero Waste Campus pertama di Batam. Sejak tahun 2023, ITEBA telah menginisiasi program riset SAMPAH (Sustainability Alliance Marine Plastic Awareness for Human Health) serta aktif mengedukasi masyarakat melalui berbagai pelatihan ekonomi sirkular.
“FGD ini tidak boleh berhenti di dalam ruangan saja. Kita perlu mengidentifikasi titik irisan kolaborasi antarkampus untuk merumuskan rencana aksi yang konkret dan terukur,” tegas Pak Lawi. Pada kesempatan tersebut, dilakukan pula penyerahan plakat institusi dari ITEBA dan penyerahan buku referensi tata kelola sampah “Kebersihan adalah Investasi — Sampahku Tanggung Jawabku” dari FORPASI.
Masing-masing kampus memaparkan capaian dan tantangan pengelolaannya. Politeknik Negeri Batam membagikan keberhasilan pengoperasian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) organik sejak Februari 2026 yang mampu memproduksi ±1 ton kompos per bulan melalui proyek berbasis Project Based Learning (PBL). Sementara itu, ITEBA memaparkan kesiapan cetak biru infrastruktur TPST/Pusat Daur Ulang (PDU) di kawasan Vitka Edu City serta inovasi teknologi yang dikembangkan, seperti sistem deteksi sampah otomatis berbasis IoT dan Machine Learning (YOLOv8) serta mesin pirolisis. Di sisi lain, STT Real Batam menunjukkan komitmen kuat melalui kebijakan pelarangan styrofoam di kantin asrama dan kesiapan mereka untuk menerima pendampingan teknis dalam merancang fasilitas pengomposan kampus.
Selain fokus pada ranah internal kampus, forum ini menyoroti lemahnya implementasi Perda Kota Batam No. 11 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah akibat belum terbitnya Peraturan Walikota (Perwako) turunan. Perhitungan akademis menunjukkan perlunya anggaran ideal sekitar Rp160 miliar per tahun untuk sistem pengelolaan sampah terpilah berskala kota. Oleh karena itu, para peserta FGD sepakat untuk menyusun rekomendasi kebijakan tertulis (policy brief) yang akan diserahkan secara kolektif kepada DLH, BP Batam, dan DPRD Kota Batam.
Sebagai rencana tindak lanjut jangka pendek, seluruh kampus akan berintegrasi dalam jaringan komunikasi FORPASI, melakukan studi banding sepanjang Juli–Agustus 2026, serta mengawal proses uji emisi dan SNI untuk teknologi pengelolaan sampah yang sedang dikembangkan ITEBA. Rangkaian acara ditutup tepat pukul 12.00 WIB dan dilanjutkan dengan workshop pembuatan serta distribusi Ecoenzyme sebagai wujud nyata pemanfaatan sampah organik rumah tangga.







