
Batam, 31 Agustus 2026 — Menjawab tuntutan dunia kerja yang terus berkembang, Program Studi (Prodi) Perdagangan Internasional Institut Teknologi Batam (ITEBA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi dan Pengembangan Kurikulum S1 Perdagangan Internasional Tahun 2026, Jumat (28/8), bertempat di Gedung Perkuliahan ITEBA Lantai 4.
Kegiatan ini menjadi ruang bagi Prodi Perdagangan Internasional untuk mengevaluasi sekaligus menghimpun berbagai perspektif dalam penyempurnaan kurikulum agar semakin relevan dengan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, serta dinamika perdagangan internasional.
Agenda FGD dipimpin oleh Kaprodi Perdagangan Internasional, Bapak Dr. M. Irvanni Bahri, S.E., M.SI., CBSM., CHRMP, dengan melibatkan pimpinan dan dosen program studi, praktisi, serta stakeholder terkait. Turut hadir Dekan SEBM, Bapak Taufik Rahman, S.T., M.T., yang dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya FGD sebagai bagian penting dari upaya peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan SEBM ITEBA.
Diskusi menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang perdagangan dan bisnis, yakni Prof. Dr. H. Nugraha, S.E., Ak., M.Si., CA., CTA., Bapak Billy Mambrasar, S.T., B. Sc., MBA., EdM., yang merupakan Komite Eksekutif Presiden RI untuk Wilayah Papua, serta Bapak Denny Saputera, S.E., M.M., Ak., CFRA, Ketua Asosiasi Perdagangan Internasional. Hadir pula Ketua Kadin Kepri Bapak Ir. Nur Mustava, ST, MM. Sementara itu, disampaikan pula pemaparan mengenai kurikulum Prodi Perdagangan Internasional oleh Sekretaris Dekan SEBM, Bapak Heri Siswanto, S.M., M.M., Gr.
FGD ini dilaksanakan sebagai bagian dari proses evaluasi dan pengembangan Kurikulum S1 Perdagangan Internasional Tahun 2026, mencakup kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan dunia kerja, penguatan kompetensi dan keterampilan mahasiswa, integrasi perkembangan teknologi, pengembangan soft skill, hingga penerapan pembelajaran berbasis praktik.
Dalam sesi diskusi, berbagai masukan strategis turut mengemuka. Salah satunya adalah pentingnya membangun link and match antara kurikulum dengan kebutuhan industri, sehingga kompetensi lulusan memiliki relevansi yang kuat dengan tuntutan dunia kerja. Selain itu, mahasiswa perlu mendapatkan pembekalan kemampuan analisis pasar, membaca dinamika perdagangan, serta mengidentifikasi peluang dalam konteks perdagangan internasional.
Bang Billy turut menyampaikan usulan strategis berupa pembentukan inkubator bisnis dengan konsep seperti Harvard Innovation Lab serta gagasan KEK UMKM Ekspor di Batam sebagai upaya mendorong UMKM menembus pasar global. Pengembangan ekosistem tersebut dinilai membutuhkan talenta unggul dari perguruan tinggi, termasuk mahasiswa Program Studi Perdagangan Internasional ITEBA, yang diharapkan dapat berkontribusi melalui kompetensi di bidang perdagangan, bisnis, dan analisis pasar internasional.
Hasil diskusi selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi bagi Prodi Perdagangan Internasional untuk melakukan penyempurnaan dan finalisasi kurikulum. Melalui proses ini, ITEBA berharap Kurikulum S1 Perdagangan Internasional Tahun 2026 mampu menghasilkan lulusan yang adaptif, kompeten, memiliki keterampilan praktis, serta siap menghadapi dinamika perdagangan dan kebutuhan industri di era transformasi teknologi.










-Humas



