
Batam, 10 September 2026 — Dinamika dunia industri yang terus berkembang menuntut perguruan tinggi untuk memastikan kompetensi lulusan tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan lapangan. Menjawab tantangan tersebut, Institut Teknologi Batam (ITEBA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Evaluasi dan Penyempurnaan Kurikulum Program Studi Manajemen Rekayasa pada Selasa, 8 September 2026. Kegiatan ini mempertemukan unsur akademisi, praktisi industri, mahasiswa, dan alumni untuk memberikan perspektif terhadap penguatan kompetensi lulusan yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
FGD dibuka oleh Wakil Rektor I ITEBA, Bapak Assoc. Prof. Dr. Dipl. Ing. Ir. H. Hery Sunarsono, DEA, didampingi Wakil Rektor II Bapak Dr. Eng. Ansarullah Lawi, M.Eng. Turut hadir Dekan Fakultas Teknologi Industri, Bapak Assoc. Prof. Dr. Ir. M. Ansyar Bora, S.T., M.T., IPM, Kaprodi Manajemen Rekayasa Ibu Elsa Putri Pertiwi, S.T., M.Tech, serta jajaran dosen Program Studi Manajemen Rekayasa.
FGD kali ini menghadirkan Bapak Dr. Made Andriani, S.T., M.T. dari Forum Manajemen Rekayasa Indonesia (FMRI) sebagai narasumber akademisi, dan Bapak Ir. Prastiwo Anggoro, MBA, IPU, ASEAN Eng, ACPE., (Associate Director PT. Turner & Townsend), sebagai praktisi industri. Sementara itu stakeholder lain yang hadir diantaranya perwakilan PT. Duta Dimensi, PT. Antony Teknika Sigmaweld, PT. PCI Elektronics Internasional, PT. MOI (Momentum Otomasi Indonesia), IFFCO Group- Dubai, Kepala BRIDA Kota Batam, Ketua PW PII Kepri- Bapak Dr. Ir. Mulia Pamadi, M.RE., IPU., ASEAN Eng. ACPE., perwakilan PT. Seatrium Batam Yard, BSOA (Batam Shipyard Offshore Association) termasuk beberapa mahasiswa dan alumni, turut memberikan masukan secara hybrid.
Salah satu poin utama yang mengemuka adalah penguatan identitas Manajemen Rekayasa sebagai jembatan antara kompetensi keteknikan dan manajemen. Lulusan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga mampu mengelola proyek, mutu, sumber daya, mengambil keputusan, serta berkembang menuju posisi manajerial dan kepemimpinan di industri.
Kurikulum juga dinilai perlu memperkuat soft skill dan kompetensi profesional, seperti komunikasi profesional dan dengan klien, negosiasi, manajemen waktu, pengelolaan target, serta etika profesi. Di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI), mahasiswa juga perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah agar teknologi menjadi alat pendukung, bukan pengganti kemampuan berpikir.
Masukan lainnya mencakup perlunya pemetaan job description dan kompetensi yang dibutuhkan industri untuk mengurangi kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan kompetensi lulusan. Kurikulum juga didorong memperkuat pembelajaran praktis melalui studi kasus, proyek, simulasi, dan permasalahan nyata di industri, termasuk materi Value Engineering, manajemen kualitas dan standar industri seperti ISO 9001 yang menekankan kemampuan implementatif, penyusunan SOP, pengendalian, serta perbaikan proses.
Selain itu, sertifikasi atau sertifikat pendamping ijazah yang relevan dengan kebutuhan industri dinilai dapat menjadi nilai tambah bagi lulusan. Aspek ketahanan mental dan kemampuan beradaptasi juga menjadi perhatian agar lulusan mampu menghadapi perubahan teknologi, tuntutan pelanggan, dan dinamika dunia kerja.
Melalui FGD ini, ITEBA berkomitmen terus menyempurnakan kurikulum Program studi Manajemen Rekayasa agar mampu menghasilkan lulusan yang menguasai teknik dan manajemen, memiliki kemampuan profesional dan kepemimpinan, berpikir kritis dan adaptif, serta siap mengimplementasikan kompetensinya dalam menyelesaikan persoalan nyata di industri.















-Humas



