
Batam, 27 Agustus 2026 — Dari ruang riset menuju kebutuhan nyata industri, kolaborasi menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium. Semangat tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Collaboration Research Center for Nanocellulose yang mempertemukan peneliti, akademisi, dan pelaku industri dalam upaya mendorong pengembangan serta hilirisasi teknologi berbasis nanoselulosa.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Batam (ITEBA) bersama Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Nanoselulosa BRIN–Universitas Andalas ini berlangsung di Auditorium ITEBA, Rabu (26/08). FGD diikuti peneliti dari BRIN, Universitas Andalas (UNAND), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Universiti Sains Malaysia (USM), dan Universitas Mataram (UNRAM).
Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan sambutan Prof. Dr.-Ing. Ir. Hairul Abral, selaku Ketua PKR Nanoselulosa, yang menyampaikan laporan pelaksanaan berbagai kegiatan riset PKR. Sambutan berikutnya disampaikan Rektor ITEBA Prof. Dr. Syafsir Akhlus, M.Sc., selaku tuan rumah.
Turut hadir Wakil Rektor I ITEBA Bapak Assoc. Prof. Dipl. Ing. Hery Sunarsono, DEA., jajaran dosen dari berbagai program studi, serta civitas akademika ITEBA.
Pada sesi pertama, diskusi menghadirkan Prof. Dr. Akbar Hanif Dawam A, M.T. (Kepala Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN), Ibu Ramadani, MKM. (QHSE Executive PT Pertama Pacific Shipyard), dan Bapak Assoc. Prof. Dr. Mohamad Haafiz Mohammad Kassim (Bioresource Technology, School of Industrial Technology, USM).









Sesi kedua dilanjutkan dengan pemaparan oleh Prof. Dr. Mohd. Yazid Bin Yahya (Director of CACM UTM), Prof. Dr. Ir. Mohd. Sapuan Bin Salit (UPM), serta Ibu Novi Hasnipurwanti (Ketua Harian Batam Shipyard and Offshore Association). Diskusi berfokus pada peluang penerapan hasil riset dan teknologi yang dikembangkan masing-masing pihak agar memberikan dampak nyata bagi industri di Batam.
Interaksi semakin dinamis melalui sesi tanya jawab yang membahas tantangan, peluang pengembangan, hingga solusi terhadap berbagai persoalan industri. Salah satu pertanyaan strategis disampaikan Kaprodi Perdagangan Internasional ITEBA, Bapak Dr. M. Irvanni Bahri, S.E., M.SI., CBSM., CHRMP, mengenai tantangan pengajuan hibah riset di BRIN. Menanggapi hal tersebut, Prof. Dawam menekankan pentingnya memperhatikan aspek administrasi serta memahami Terms of Reference (TOR) dalam pengajuan proposal.
FGD kemudian ditutup pada Kamis (27/08) melalui kunjungan industri ke PT Saipem Tanjung Balai Karimun untuk melihat secara langsung potensi upscaling biomassa dan penerapan hasil penelitian dalam mendukung upaya pengurangan emisi pada sektor industri.
Kegiatan ini menegaskan bahwa pengembangan teknologi membutuhkan ekosistem kolaboratif yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat, sehingga hasil riset dapat berkembang menjadi inovasi yang relevan, aplikatif, dan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan industri berkelanjutan.



-Humas



