
Krisis sampah laut yang kian mendesak di kawasan pesisir kepulauan menuntut solusi teknologi yang adaptif dan berkelanjutan. Menjawab tantangan tersebut, akademisi Institut Teknologi Batam (ITEBA), Dr. Eng. Ansarullah Lawi, M.Eng., hadir sebagai salah satu pembicara utama dalam ajang bergengsi Seminar Alumni Kyushu University Jepang yang dihelat di Ruang Sidang 2.1, Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Dalam forum ilmiah yang mengusung tema “Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Secara Berkelanjutan” ini, seminar dibagi menjadi beberapa sesi panel penting. Sesi panel pertama menghadirkan sejumlah pakar terkemuka seperti Dr. Budi Kurniawan, S.Si., M.Eng. yang membahas implementasi instrumen kebijakan lingkungan hibrida; Hasnawir, S.Hut., M.Sc., Ph.D. mengenai pengelolaan hutan berbasis masyarakat; Prof. Dr. Eng. Muhammad Aziz yang memaparkan dekarbonisasi di sektor energi; serta Kus Prisetiahadi, S.Pi., M.Sc., Ph.D. yang mengupas pengaturan perdagangan karbon. Acara pembuka tersebut turut dihadiri oleh Dr. Eng. Lukijanto, S.T., M.Sc. selaku Tenaga Ahli Utama Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa yang menyampaikan keynote speech mengenai prioritas nasional pembangunan tanggul laut.
Memasuki sesi panel kedua yang dimoderatori oleh Dr. Handoko Adi Susanto, Dr. Eng. Ansarullah Lawi, M.Eng. memaparkan inovasi mutakhir bertajuk “IoT and Machine Learning-Based Marine Waste Processing System for Supporting the Circular Economy Model”. Paparan tersebut menyoroti kondisi darurat ekologis di wilayah perairan dan pulau-pulau kecil di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, di mana timbunan sampah plastik laut kian mengancam ekosistem pesisir serta kelangsungan hidup nelayan lokal. Sesi panel kedua ini juga diperkaya oleh paparan dari para narasumber lainnya, yaitu Dr. Eng. Ir. Mukhsan Putra Hatta, S.T., M.T. yang membahas penanganan bencana keairan, Dr. Eko Fajar Nur Prasetyo, M.Eng. mengenai pengembangan feedstock bioavtur di Indonesia, serta Dr. Susanna Nurdjaman, S.Si., M.T. yang mengulas perlindungan ekosistem laut kepulauan.
Dalam materinya, Pak Lawi menjelaskan bahwa pendekatan konvensional yang mengandalkan pemilahan manual terbukti lambat, padat karya, dan rentan terhadap kesalahan manusia. Oleh karena itu, ITEBA mengembangkan ekosistem teknologi terpadu yang memadukan perangkat Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan berbasis Machine Learning, khususnya model YOLOv8. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi, memantau, dan mengklasifikasikan jenis serta volume sampah laut secara waktu nyata (real-time) melalui tiang pemantau bertenaga surya di titik-titik rawan.
Lebih lanjut, rangkaian ekosistem riset ITEBA dari tahun 2023 hingga 2026 ini tidak berhenti pada pemantauan digital semata, melainkan berlanjut hingga hilirisasi pengolahan material melalui mesin pencacah plastik seluler berbasis IoT, mesin pelebur rendah emisi untuk memproduksi paving block bernilai ekonomis, hingga teknologi pirolisis cerdas yang mengonversi sampah plastik menjadi gas sintetis (syngas). Model penerapan ini terbukti mampu memberikan dampak nyata bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir melalui konsep ekonomi sirkular, membuka lapangan kerja baru, sekaligus mengurangi polusi pembakaran terbuka.
Keikutsertaan perwakilan ITEBA dalam forum ilmiah nasional lintas institusi ini menegaskan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ke-12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui sinergi riset teknologi tepat guna, ITEBA terus aktif menghadirkan solusi konkret untuk melindungi ekosistem laut serta mengukuhkan peran strategis institusi di kancah nasional.






