
Batam, 11 Mei 2026 – Upaya mewujudkan pariwisata yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan terus didorong melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Membangun Pariwisata Cerdas di Kota Batam Melalui Inovasi Peta Digital Wisata” yang digelar pada Senin, 11 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengembangan inovasi peta digital wisata oleh tim peneliti Telkom University yang berkolaborasi bersama Institut Teknologi Batam sebagai langkah strategis dalam mendukung pengembangan pariwisata cerdas dan berkelanjutan di Kota Batam.
FGD tersebut menghadirkan berbagai stakeholder dari kalangan pemerintah, akademisi, industri, hingga tokoh masyarakat dan asosiasi pariwisata. Hadir dalam kegiatan ini di antaranya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Bapak Ardiwinata, General Manager Batam View Beach Resort Mr. Anddy Fong, Ketua Asosiasi Pariwisata Bahari (ASPABRI) Bapak Surya Wijaya, Ketua Pokdarwis Kota Batam Bapak Gari Dafit S, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Bapak Indra Firdiyansyah, S.E., M.Si., Sekretaris Prodi Magister BTP Ibu Nensi Lapotulo, MM.Par, tim peneliti Telkom University yang dipimpin oleh Dr. Ersy Ervina, S.Sos., MM.Par., bersama Bapak Unang Sunarya, S.T., M.T., Ph.D, serta Wakil Rektor I ITEBA Bapak Dr. Eng. Ansarullah Lawi, M. Eng., sebagai tuan rumah kegiatan.
Sebelum memasuki sesi diskusi, tim peneliti memaparkan tujuan utama pengembangan inovasi peta digital wisata sebagai wadah yang mampu mengintegrasikan berbagai informasi pariwisata khususnya di Kepri secara lebih komprehensif. Pengembangan ini tidak hanya berfokus pada aspek bisnis dan promosi wisata, tetapi juga memperhatikan unsur lingkungan, sosial budaya, hingga keberlanjutan destinasi wisata di Batam.
Diskusi yang berlangsung dalam empat sesi tersebut membahas berbagai tantangan dan peluang dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan. Para peserta menyoroti pentingnya sinergi data, keterlibatan pelaku industri dan masyarakat, serta penguatan promosi wisata berbasis teknologi digital. Selain itu, aspek lingkungan seperti pengelolaan sampah, kualitas udara, pelestarian mangrove, hingga konsep green tourism turut menjadi perhatian utama dalam pengembangan peta digital wisata ini.
Berbagai masukan strategis juga disampaikan oleh peserta FGD, mulai dari kebutuhan fitur detail lokasi destinasi, kalender event, akses transportasi terintegrasi, ulasan fasilitas wisata, hingga penguatan unsur budaya Melayu, wisata edukasi, wellness tourism, dan mitigasi bencana. Peta digital ini diharapkan mampu menjadi ruang kolaborasi bagi seluruh stakeholder dalam membangun ekosistem pariwisata Batam yang lebih adaptif, informatif, dan berdaya saing.






-Humas



