
Batam, 21 September 2026 – Pengembangan Batam sebagai pusat data (data center) dan lokasi hilirisasi teknologi digital di kawasan kepulauan menghadirkan peluang ekonomi sekaligus tantangan terhadap daya dukung lingkungan. Isu tersebut menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk “Proyek Data Center dan Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Energi dan Air di Batam” yang digelar dalam rangkaian Festival Media Selat Malaka (FESMED) 2026 di Politeknik Negeri Batam, Minggu (20/9/2026).
Diskusi yang mempertemukan peneliti, pemerintah, akademisi, pegiat lingkungan, dan peserta tersebut membahas kebutuhan besar industri data center terhadap sumber daya, khususnya air dan energi.
Peneliti AI Henke Yunkins menjelaskan bahwa industri digital memiliki jejak fisik yang membutuhkan infrastruktur, perangkat keras, jaringan listrik, serta sistem pendingin yang beroperasi secara berkelanjutan. “Data center punya jejak fisik, jadi tidak hanya virtual. Kebutuhan energinya luar biasa, begitu juga kebutuhan air,” tuturnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena Batam beriklim tropis sehingga kebutuhan pendinginan tinggi, sementara ketersediaan sumber air alami relatif terbatas. Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi BP Batam, Dendi Gustinandar, turut menyampaikan bahwa pasokan air Batam bergantung pada faktor alam.
Tantangan lainnya adalah kebutuhan listrik yang stabil selama 24 jam. Zakki Amali dari Trend Asia mengingatkan bahwa peningkatan kebutuhan daya data center dapat mendorong pembangunan infrastruktur energi baru yang juga membawa konsekuensi lingkungan, termasuk rencana PLTU yang menurutnya berkaitan dengan peningkatan kebutuhan listrik industri tersebut.
Dari sisi akademik, Dosen ITEBA Bapak Alvendo Wahyu Aranski, S. Kom., M. Kom. menekankan pentingnya kajian daya dukung lingkungan sebelum proyek berskala besar dijalankan. “Kita menciptakan proyek bukan semata-mata untuk investasi, tetapi harus ada kajian terlebih dahulu, apakah sumber daya alam kita mencukupi atau tidak,” tegasnya.
Peserta diskusi, Asnil Bambani, turut mempertanyakan besarnya investasi data center dibandingkan penyerapan tenaga kerja. Ia mencontohkan salah satu data center terbesar di Indonesia dengan nilai aset mendekati Rp500 triliun dan pendapatan tahunan Rp1,8 triliun yang mempekerjakan sekitar 180 tenaga kerja.
Menanggapi hal tersebut, Dendi menjelaskan bahwa industri teknologi informasi lebih bertumpu pada modal, infrastruktur, dan tenaga kerja berkeahlian khusus dibandingkan sektor manufaktur padat karya.
Diskusi FESMED 2026 tersebut menunjukkan pentingnya melihat pengembangan data center secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan investasi, ketersediaan energi dan air, daya dukung lingkungan, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat Batam.


-Humas



