
Bandung, 23 Oktober 2026 – Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Marketing, dan Sumber Daya Institut Teknologi Batam (ITEBA), Dr. Eng. Ansarullah Lawi, M.Eng., menggunakan Rapat Kerja Forum Manajemen Rekayasa Indonesia (FMRI) 2026 di Telkom University untuk memperjuangkan sejumlah agenda yang menyangkut masa depan lulusan Manajemen Rekayasa, mulai dari pengakuan nomenklatur hingga perluasan akses magang dan jejaring industri. Rapat kerja yang berlangsung pada 22–23 Oktober 2026 di Telkom University Landmark Tower (TULT), Bandung, itu sekaligus menjadi momen bagi Pak Lawi untuk menyerahkan jabatan Ketua FMRI kepada Josua Boyke William Jawak, S.T., M.Ds., Ketua Program Studi Sarjana Manajemen Rekayasa Institut Teknologi Del (IT Del).
Pak Lawi memimpin forum ini sejak masih bernama Badan Kerja Sama Manajemen Rekayasa (BKSMR), yang diluncurkan pada Agustus 2023 dan beranggotakan perguruan tinggi penyelenggara Program Studi Manajemen Rekayasa di Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, forum ini merumuskan kurikulum inti Manajemen Rekayasa nasional, menjalin komunikasi dengan American Society for Engineering Management (ASEM), dan menyelenggarakan program EMBRACE 2025 yang mempertemukan anggota dengan industri di Batam dan dengan Singapore University of Technology and Design (SUTD). Pada Juli 2026, forum ini resmi berbadan hukum dengan nama FMRI melalui pengesahan Kementerian Hukum Republik Indonesia.
“Raker ini istimewa karena untuk pertama kalinya kita bertemu sebagai FMRI yang berbadan hukum. Mulai sekarang kita bisa berbicara atas nama seluruh penyelenggara Manajemen Rekayasa ketika bermitra dengan LAM Teknik, kementerian, pemerintah daerah, dan industri,” ujar Pak Lawi dalam rapat tersebut.
Menurut Pak Lawi, serah terima jabatan ini merupakan bagian dari reorganisasi yang disepakati para anggota. Kepemimpinan forum perlu dipegang oleh pengelola program studi yang setiap hari berhadapan langsung dengan mahasiswa dan kurikulum. “Forum sudah memiliki dasar hukum dan arah kerja yang jelas. Sekarang saatnya tongkat estafet diteruskan. ITEBA tetap akan menjadi bagian aktif dari FMRI dan mendukung penuh kepengurusan yang baru,” katanya.
Rapat kerja yang diikuti 18 peserta dari tujuh perguruan tinggi itu membahas berbagai isu yang berdampak langsung pada mahasiswa Manajemen Rekayasa, termasuk mahasiswa ITEBA. Isu pertama adalah nomenklatur. Dalam Focus Group Discussion bersama BAPPERIDA, Biro Organisasi, dan Telkom, terungkap bahwa nama Manajemen Rekayasa belum tercantum dalam analisis jabatan dan formasi kepegawaian. Akibatnya, lulusan berisiko tidak dapat melamar posisi yang sesuai, sebaik apa pun kompetensinya. Pak Lawi mendorong advokasi nomenklatur menjadi prioritas utama FMRI melalui penyusunan profil lulusan bersama dan audiensi ke KemenPAN-RB, Badan Kepegawaian Negara, serta Biro Organisasi daerah dalam enam bulan ke depan.
“Ini menyangkut masa depan alumni kita. Kalau nama bidang kita tidak tercantum, lulusan tidak bisa masuk, meskipun kemampuannya sesuai. Mahasiswa Manajemen Rekayasa ITEBA harus punya jalan yang sama terbukanya dengan lulusan bidang lain,” tegasnya.
Pak Lawi juga mengusulkan pembentukan Industrial Advisory Board (IAB) di tingkat FMRI, dengan mitra industri dan pemerintah yang hadir sebagai anggota perdana. Badan ini akan menjadi wadah bersama untuk magang, proyek capstone, penilaian praktisi, dan kalender magang lintas kampus, sehingga mahasiswa ITEBA berpeluang mendapat akses ke jejaring mitra yang lebih luas daripada yang dapat dibangun satu kampus sendirian. Usulan lainnya adalah instrumen tracer study bersama, yang akan membantu program studi memantau karier alumni sekaligus memperkuat bukti mutu dalam proses akreditasi.
Dari sisi kurikulum, forum menyepakati manajemen proyek serta tata kelola data, termasuk literasi kecerdasan buatan yang bertanggung jawab, sebagai penciri Manajemen Rekayasa. Pembentukan karakter juga akan dirancang secara sengaja melalui capaian pembelajaran dan rubrik penilaian. Kesepakatan ini berangkat dari temuan FGD bahwa industri merekrut terutama karena sikap dan karakter, sementara keterampilan masih dapat dilatih. Pak Lawi juga mendukung usulan Dr. Ir. Lucia Diawati dari Dewan Pengawas FMRI untuk menyusun Body of Knowledge Manajemen Rekayasa Indonesia, yang kelak menjadi induk kurikulum inti dan pedoman tugas akhir di seluruh program studi anggota.
Sebelum rapat kerja ditutup, peserta mengikuti tur kampus Telkom University. Rombongan mengunjungi Bandung Techno Park (BTP), kawasan inkubasi dan hilirisasi inovasi milik Telkom University, serta sejumlah laboratorium pendukung pembelajaran Manajemen Rekayasa. Di antaranya Laboratorium Integrated Prototyping (Fabrikasi), Laboratorium Proses Manufaktur (PROSMAN), dan Laboratorium Sistem Produksi dan Automasi (SISPROMASI). Bagi Pak Lawi, kunjungan ini memberi gambaran konkret tentang cara laboratorium dan kawasan inovasi menjembatani mahasiswa dari tahap rancangan, pembuatan purwarupa, hingga produk yang siap dikembangkan bersama industri. Peran tersebut sejalan dengan posisi Manajemen Rekayasa di sisi hulu siklus pengembangan produk dan teknologi.
“Semua yang kami bahas dan lihat di Bandung akan kami bawa pulang ke ITEBA. Kurikulum Manajemen Rekayasa kita akan terus diselaraskan dengan kurikulum inti nasional. Pengalaman Telkom University mengelola Bandung Techno Park dan laboratorium prototyping juga menjadi inspirasi bagi pengembangan fasilitas praktik mahasiswa kita. Mahasiswa akan merasakan manfaatnya melalui magang, capstone, dan jejaring industri yang lebih luas. Program Studi Manajemen Rekayasa ITEBA, yang menjadi prodi pertama di ITEBA dengan akreditasi Baik Sekali, harus terus berada di barisan depan pengembangan bidang ini,” pungkas Pak Lawi.






