
Dalam upaya nyata mengatasi krisis penumpukan sampah di Kota Batam, Kelompok Riset SAMPAH Institut Teknologi Batam (ITEBA) menggelar pengabdian masyarakat berupa “Pelatihan Mendaur Ulang Sampah Rumah Tangga”. Kegiatan yang berfokus pada pengolahan limbah minyak goreng bekas (jelantah) menjadi sabun cuci komersial ini diselenggarakan di Gedung Lansia “Dang Merdu”, Kelurahan Lubuk Baja Kota, pada Kamis (25/6/2026).
Acara ini dibuka secara resmi oleh Lurah Lubuk Baja Kota, Bapak Basriendi, S.Kom., bersama Sekretaris Kecamatan Lubuk Baja, Bapak Much Bachri, S.Ag., M.H. Kehadiran program ini disambut antusiasme luar biasa oleh ibu-ibu rumah tangga setempat yang ingin belajar langsung mengolah sisa dapur mereka agar memiliki nilai ekonomis.
Ketua Kelompok Riset SAMPAH ITEBA, Dr. Eng. Ansarullah Lawi, menjelaskan bahwa langkah edukasi ini didasarkan pada data krusial mengenai volume sampah Kota Batam yang telah mencapai 1.200 hingga 1.300 ton per hari. Dengan kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Telaga Punggur yang terancam penuh total (overload) pada tahun 2026, tindakan preventif dari hulu sangat mendesak untuk dilakukan. Terlebih, sampah rumah tangga memegang porsi terbesar, yakni sebesar 50,8 persen dari total produksi sampah nasional.
“Minyak jelantah yang dibuang sembarangan ke selokan akan membeku dan menyumbat saluran air, serta berujung merusak ekosistem pesisir dan laut Batam. Melalui reaksi kimia sederhana yang disebut saponifikasi, kita bisa memurnikan minyak kotor ini menggunakan bantuan arang, lalu mencampurkannya dengan larutan NaOH dan air untuk diubah menjadi sabun cuci baju atau sabun lantai yang wangi,” ujar Pak Lawi di sela-sela pelatihan.
Dalam implementasi praktisnya, tim dosen ITEBA yang terdiri atas Ir. Aulia Agung Dermawan, ST., MT., IPM., Hazimah, S.Si., M.Si., dan Elsa Putri Pertiwi, S.T., M.Tech., membimbing langsung para peserta mengenai prosedur keselamatan. Mengingat proses pembuatan melibatkan soda api (NaOH) yang menghasilkan reaksi panas, peserta diwajibkan menggunakan masker, kacamata pelindung, dan sarung tangan karet.
Tidak hanya dosen, kegiatan ini juga melibatkan partisipasi aktif mahasiswa Program Studi Manajemen Rekayasa ITEBA, yaitu Nasywa Nathaniela dan Yosina Anthoneta Pattikawa. Mereka mendampingi ibu-ibu dalam menakar formula ajaib: 17,5 gram NaOH, 35 ml aquades, dan 67,5 ml minyak jelantah steril hingga mengental dan siap dimasukkan ke dalam cetakan selama 24 jam sebelum memasuki fase curing (pematangan) beberapa minggu.
Melalui pelatihan ekonomi kreatif ini, ITEBA berharap dapat mencetak “Pahlawan Lingkungan Batam” dari lingkup keluarga. Selain mampu menekan pengeluaran belanja sabun tangga, produk sabun jelantah yang dicetak cantik dan diberi warna ini juga membuka peluang bisnis industri rumahan baru bagi masyarakat Lubuk Baja.






