
Guna menekan volume sampah rumah tangga yang kian mengancam kelestarian lingkungan pesisir, tim Sustainability Alliance on Marine Plastic Awareness for Human-health (SAMPAH) Institut Teknologi Batam (ITEBA) menggelar pelatihan daur ulang bagi warga Kelurahan Tanjung Uma, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam. Kegiatan yang berfokus pada pelatihan mendaur ulang sampah rumah tangga ini dilaksanakan pada Kamis, 21 Mei 2026, bertempat di Pantai Steven, Tanjung Uma .
Acara ini diselenggarakan oleh Kelurahan Tanjung Uma sebagai bentuk program Pemberdayaan Masyarakat, dan secara resmi dibuka langsung oleh Ibu Lurah Tanjung Uma, Raja Zawinar, SE. Pelatihan ini menyasar puluhan peserta yang terdiri dari kader Posyandu dan PKK Kelurahan Tanjung Uma, dengan tujuan meningkatkan pemandirian ekonomi sekaligus menjaga ekosistem laut .
Hadir sebagai narasumber utama, Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni ITEBA, Bapak Dr. Eng. Ansarullah Lawi, yang juga bertindak sebagai Ketua Tim SAMPAH ITEBA . Dalam paparannya yang bertajuk “Dari Dapur Menyelamatkan Laut: Rahasia Ibu Cerdas Mengubah Sampah Menjadi Berkah”, Pak Lawi mengungkapkan fakta krusial bahwa Kota Batam memproduksi sekitar 1.300 ton sampah per hari pada periode 2024–2025, di mana 70% di antaranya disumbang oleh sampah rumah tangga . Jika tidak ditangani serius, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur diprediksi mengalami overload total pada tahun 2026 .
“Limbah dapur seperti sisa makanan dan minyak jelantah yang dibuang sembarangan ke wastafel akan bermuara ke pesisir, merusak hutan mangrove, memicu berbagai penyakit, hingga menurunkan pendapatan nelayan setempat akibat pencemaran laut,” papar Pak Lawi dalam sesi pengantar pelatihan ini.
Sebagai solusi nyata, Tim SAMPAH ITEBA—yang pada kegiatan ini diperkuat oleh Bapak Ir. Aulia Agung Dermawan, ST., MT., IPM., dan Ibu Hazimah, S.Si., M.Si.—mengajak para ibu rumah tangga untuk menjadi nasabah Bank Sampah serta memanfaatkan minyak jelantah melalui proses kimia sederhana yang disebut saponifikasi.
Sesi utama pelatihan diisi dengan praktik langsung pembuatan sabun cuci baju dan lantai yang dipandu secara interaktif oleh Ibu Hazimah. Menggunakan bahan dasar berupa 0,5 liter minyak jelantah yang telah disaring dengan arang, 1 liter air Amidis (aquadest), 500 gram soda api (NaOH), serta pewarna makanan secukupnya, para kader PKK diajarkan mencampur adonan dengan mixer manual hingga mengental dan siap dicetak . Sabun hasil daur ulang ini baru dapat digunakan setelah melewati masa curing selama 3 hingga 4 minggu.
Aksi kepedulian lingkungan ini juga melibatkan kontribusi aktif mahasiswa prodi Perdagangan Industri ITEBA, yakni Aulia Rizkina Adilfatya, Hani Sulistyaningrum, dan Gagah Banyu Yoga Riandy Saputra. Keterlibatan mahasiswa ini diharapkan mampu memberikan pengalaman sosiologis langsung dalam mendukung hilirisasi ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat pesisir Batam.
Melalui pelatihan ini, minyak jelantah yang semula dicap sebagai “penjahat dapur” berhasil disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang dapat menghemat anggaran belanja bulanan masyarakat sekaligus menyelamatkan jutaan liter air laut pesisir Batam dari pencemaran.







