
Batam, 30 Oktober 2026 – Himpunan Mahasiswa Perdagangan Internasional Institut Teknologi Batam (HIMAPI ITEBA) bersama Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) menggelar kuliah umum bertema “Perencanaan Keuangan, Make It Happen: Goals, Plan and Your Bright Future” di Auditorium ITEBA, Jumat (30/10/2026). Kegiatan yang terbuka untuk mahasiswa ini dibuka oleh Wakil Rektor II Bidang Kerja Sama, Marketing, dan Sumber Daya ITEBA, Bapak Dr. Ansarullah Lawi, yang hadir mewakili pimpinan ITEBA. Acara juga dirangkai dengan penandatanganan dua Memorandum of Agreement (MoA) oleh Sekolah Ekonomi Bisnis dan Manajemen ITEBA.
MoA pertama ditandatangani antara Sekolah Ekonomi Bisnis dan Manajemen ITEBA dengan Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA) Cabang Batam, Kepulauan Riau. Setelah itu, MoA kedua ditandatangani antara Sekolah Ekonomi Bisnis dan Manajemen ITEBA dengan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bentara Persada Batam. Penandatanganan tersebut turut dihadiri Ketua STIE Bentara Persada, Bapak Agus Sekti Susila Atmojo, S.Pt., M.Si., dan Wakil Ketua II STIE Bentara Persada, Ibu Dra. Brigida Endah Nuraeni, M.M. Hadir pula Ketua Program Studi Perdagangan Internasional ITEBA, Bapak Dr. M. Irvanni Bahri, S.E., M.Si., CBSM., CHRMP.
Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars ITEBA, lalu pembacaan doa. Sambutan pertama disampaikan oleh ketua pelaksana, Kamala Dewi Wahyu A, mahasiswa Program Studi Perdagangan Internasional ITEBA. Setelah itu, Pak Lawi menyampaikan sambutan atas nama pimpinan ITEBA, disusul sambutan dari pihak AMA Batam oleh Ibu Dra. Lidya Norman, M.B.A.
Dalam sambutannya, Pak Lawi menyebut literasi keuangan sebagai bekal yang sama pentingnya dengan kompetensi akademik. Menurutnya, mahasiswa setiap hari sudah berhadapan dengan keputusan keuangan, mulai dari mengatur uang saku dan kiriman keluarga, membayar UKT, hingga menghadapi tawaran belanja daring dan paylater. “Banyak mahasiswa sebenarnya punya cita-cita yang jelas, tetapi belum terbiasa menerjemahkannya menjadi angka dan rencana. Kuliah umum ini kami hadirkan supaya kebiasaan itu dibangun sejak sekarang, bukan setelah lulus,” ujarnya.
Pak Lawi juga menyampaikan apresiasi kepada HIMAPI ITEBA yang menginisiasi kegiatan bersama mitra eksternal. Ia menilai penandatanganan MoA hari itu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi sivitas akademika ITEBA. “Kerja sama dengan AMA dan STIE Bentara Persada kami harapkan tidak berhenti di atas kertas. Yang kami tunggu adalah kegiatan nyata yang dirasakan mahasiswa, seperti kuliah tamu, pelatihan, dan kesempatan belajar langsung dari para praktisi,” jelasnya.
Materi utama dibawakan oleh Bapak Dr. Johny Budiman, S.E., S.H., M.Sc., M.M., M.Ak., M.A., akademisi dan praktisi keuangan, yang juga merupakan pengurus inti AMA Batam. Kuliah umum ini merupakan seri pertama dari rangkaian kegiatan “Make It Happen”. Fokusnya adalah merumuskan tujuan, menyusun strategi eksekusi, dan mengambil langkah nyata untuk membangun kemandirian finansial sejak bangku kuliah.
Pak Johny membuka materinya dengan membahas jebakan perilaku yang kerap muncul dalam keputusan sehari-hari. Jebakan itu antara lain kecenderungan menikmati sekarang dan menunda menabung, anggapan bahwa harga coret berarti hemat, serta dorongan membeli karena takut tertinggal dari teman. Ia menyarankan peserta memberi jeda 24 jam sebelum melakukan pembelian yang sifatnya pilihan, lalu memeriksa kembali anggaran.
Peserta kemudian diajak mengubah keinginan umum menjadi tujuan yang terukur dengan pendekatan SMART. Sebagai contoh, keinginan “ingin mandiri” diubah menjadi target menyiapkan dana sertifikasi Rp3 juta dalam 12 bulan. Dengan dana awal Rp600 ribu, mahasiswa cukup menyisihkan Rp200 ribu per bulan. Pak Johny juga menunjukkan bahwa pengeluaran kecil yang berulang bisa menjadi besar. Pengeluaran Rp20 ribu sebanyak 15 kali sebulan, misalnya, dapat mencapai Rp3,6 juta dalam setahun.
Pembahasan berlanjut ke penyusunan anggaran dan pentingnya dana darurat untuk kejadian seperti kiriman terlambat atau laptop rusak. Pak Johny juga menampilkan simulasi paylater yang memperlihatkan bagaimana cicilan yang tampak kecil dapat menghabiskan sebagian besar sisa uang bulanan. Mengenai investasi, ia menekankan bahwa langkah itu baru tepat diambil setelah kebutuhan dekat terpenuhi. Peserta juga perlu memeriksa legalitas penyedia dan mewaspadai janji hasil tinggi tanpa risiko. Di akhir materi, peserta diminta menyusun rencana keuangan satu halaman dan menuliskan komitmen langkah pertama yang akan dijalankan dalam 24 jam.
Sesi tanya jawab berlangsung aktif. Acara ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada narasumber oleh Ketua Program Studi Perdagangan Internasional ITEBA dan foto bersama. Penyelenggara juga mengumumkan seri kedua berupa workshop penyusunan perencanaan keuangan personal bertajuk “Make It Happen Now”.
Menurut Pak Irvanni, rangkaian ini sejalan dengan upaya ITEBA membekali mahasiswa dengan keterampilan hidup di luar ruang kelas. “Saya ingin mahasiswa pulang dari sini dengan satu rencana yang benar-benar dijalankan, sekecil apa pun. Dari kebiasaan mengatur uang dengan disiplin, kemandirian itu akan tumbuh,” tutupnya.









