
JAKARTA – Institut Teknologi Batam (ITEBA) terus menunjukkan eksistensi dan perannya di tingkat global. Wakil Rektor 2 ITEBA, Dr. Eng. Ansarullah Lawi, hadir mewakili institusi dalam acara bergengsi International Pepper Day (IPD) 2026 yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, pada Rabu (30/9/2026). Acara ini diselenggarakan oleh International Pepper Community (IPC) dengan mengusung tema “Power of Pepper: From Origin to Global Market”.
Kehadiran ITEBA dalam forum internasional ini merupakan tindak lanjut strategis dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan sinergi yang telah terjalin kuat antara ITEBA dan IPC sebelumnya. Kolaborasi ini telah diwujudkan melalui berbagai kegiatan, termasuk penjajakan kerja sama riset komoditi lada, kunjungan resmi ke kampus, serta penyelenggaraan kuliah umum terkait inovasi digital dan teknologi pintar. Keikutsertaan dalam IPD 2026 ini semakin menegaskan komitmen ITEBA terhadap inovasi, kewirausahaan, dan pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Fokus pengembangan kemitraan ITEBA turut dijalankan secara maksimal dalam kesempatan ini. Bapak Dr. Eng. Ansarullah Lawi atau biasa dipanggil Pak Lawi, secara aktif memperluas jejaring dengan berbagai delegasi penting yang hadir. Beliau menjalin komunikasi dengan perwakilan Kedutaan Besar Sri Lanka, pejabat dari Kementerian Perdagangan, serta perwakilan dari Pemerintah Daerah Bangka Belitung. Selain itu, relasi akademik juga diperkuat melalui pertemuan dengan perwakilan perguruan tinggi, di antaranya Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Brawijaya, Universitas Prof. Dr. Moestopo, dan Universitas Bangka Belitung.
Selain memperluas jejaring, kontribusi akademik ITEBA juga ditunjukkan dalam sesi diskusi bersama para pelaku industri. Pada kesempatan tersebut, Pak Lawi menyampaikan gagasan serta pertanyaan strategis kepada Bapak Richard, perwakilan dari PT Haniori yang merupakan perusahaan eksportir utama komoditas rempah dan Lada Putih Bangka.
Bapak Lawi memaparkan bahwa riset terbaru ITEBA saat ini berfokus pada pemetaan kebutuhan teknis untuk adopsi Industri 4.0 di sektor lada Indonesia, termasuk eksplorasi pemanfaatan Internet of Things (IoT) untuk pemantauan lingkungan dan Kecerdasan Buatan (AI) untuk deteksi penyakit tanaman secara otomatis. Namun, ia juga menyoroti hambatan kompleks di lapangan, seperti infeksi biologis nematoda dan slow decline, tingginya biaya implementasi, serta terbatasnya literasi digital petani.
Mewakili pendekatan riset ITEBA yang berorientasi pada solusi praktis, beliau menanyakan tantangan riil yang dihadapi industri. “Dari perspektif PT Haniori sebagai pelaku industri, apa saja titik masalah (pain points) terkait teknologi atau data yang paling kritis dan belum terselesaikan dalam rantai pasok Anda saat ini? Lebih spesifik lagi, isu-isu apa di tingkat petani atau pengepul yang menurut Anda harus diprioritaskan oleh institusi akademik seperti ITEBA dalam riset kami, agar kami dapat menciptakan solusi yang praktis dan hemat biaya bagi industri?” tanya Wakil Rektor 2 ITEBA tersebut.
Melalui partisipasi aktif, dialog dengan pelaku industri terkemuka, dan penguatan jejaring kemitraan nasional maupun internasional seperti ini, ITEBA terus memantapkan posisinya sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap dinamika industri global serta berkontribusi nyata pada pengembangan inovasi lintas sektor.











